Sunday, April 27, 2008

Refleksi Miranti X-1/20

Setelah mewawancarai salah seorang narasumber(Ibu Nasidah) yang saya dan Astrid nilai sesuai dengan kriteria yang ditetapkan Ibu Cecil, saya merasa turut prihatin.
Setelah mendengar sendiri kisah perjuangan Ibu Nasidah untuk membiayai hidup lima orang yang semuanya bergantung pada Ibu Nasidah sendiri. Ibu Nasidah tabah menghadapi menantunya yang pengangguran dan putranya sendiri yang juga seorang pengangguran. Perihal semacam ini memang cenderung menimbulkan rasa marah dan kesal. Namun setelah beberapa tahun, kehidupan Ibu Nasidah juga tetap demikian, menanggung beban hidup banyak orang sendirian. Bayangkan, betapa berat menghadapi semua itu.
Pelajaran yang bisa saya dapat dari cerita Ibu Nasidah, saya semakin menghargai jerih payah orang tua untuk menghidupi saya dan kakak-kakak saya. Demikian saya juga sadar bahwa dari jenjang yang paling awal saya sudah harus berusaha agar di masa depan bisa memperoleh penghidupan yang layak (mendapat pekerjaan yang baik), sehingga bisa hidup berkecukupan dan dalam damai Tuhan. Amin.

Saturday, April 26, 2008

KEHIDUPAN DI SEKITARKU

KEHIDUPAN DI SEKITARKU

Sabtu, 19 April 2008.

Siang itu, jam menunjukkan pukul 12.30. Sekolah tampak sepi karena sebagian besar muridnya sudah pulang ke rumah masing-masing. Tampak seorang ibu berumur sekitar 40-50 tahunan sedang merapikan majalah-majalah dagangannya. Ibu itu adalah seorang pedagang majalah. Sehari-hari ia berjualan di SMA Santa Ursula. Pada waktu usianya masih belia, ia merantau ke Jakarta dari daerah asalnya, Magelang dengan harapan bisa mengubah nasib di Jakarta. Beberapa tahun setelah ia menetap di Jakarta, ia bertemu dengan seseorang yang saat ini menjadi suaminya. Setelah menikah ia berjualan majalah dan komik di SMA Santa Ursula. Penghasilannya dari berjualan ini sangatlah pas-pasan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Anaknya yang pertama (19 tahun) tidak bisa melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya, sehingga anaknya langsung bekerja dengan gaji yang dapat digunakan untuk biaya pendidikan adiknya. Sedangkan anaknya yang kedua (15 tahun), saat ini masih duduk di bangku SMA sebuah sekolah negeri di daerah cempaka putih. Meskipun hidupnya sangat pas-pasan dan mungkin dapat tergolong kurang, ia dapat menjalaninya dengan penuh semangat dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Refleksi Reina X1-1:

Ketika saya selesai mewawancarai ibu ini, saya jadi merasa kalau saya ini sangat beruntung. Saya tidak perlu bersusah payah untuk memenuhi kebutuhan hidup, dapat sekolah di sekolah swasta yang bagus, dan dapat hidup berkecukupan. Kalau sebelum-sebelumnya saya sering sekali membeli sesuatu yang tidak penting, untuk kedepannya saya akan lebih menghargai uang. Karena ternyata uang yang begitu sulit untuk dicari. Saya juga menjadi sadar, bahwa di sekitar saya masih banyak orang lain yang harus bersusah payah untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Karena itu saya harus lebih dapat menghargai hidup saya yang sudah berkecukupan.

Refleksi Valie X1-28 :

Apa yang ada di benak saya berbeda dengan kenyataanya. Awalnya saya mengira, ibu ini tergolong yang mampu. Ternyata setelah di wawancarai, mereka dapat digolong sebagai warga yang kurang mampu. Untuk mencari hidup yang lebih baik, ibu tersebut pindah ke Jakarta, meninggalkan keluarganya di desa. Anaknya yang berumur 19 tahun, tidak kuliah karena tidak memiliki biaya pendidikan yang setiap tahun tentunya meningkat. Saya harus benar-benar besyukur, sudah di beri penghidupan yang layak, diberi keluarga yang tergolong lebih dari cukup, dan diberi fasilitas yang serba mencukupi. Inilah kehidupan diluar kita. Diluar, tetapi dekat dengan kita. Semoga dengan wawancara ini, saya dapat mengerti bahwa kehidupan ini tidaklah semudah apa yang kita duga. Hargai dan bersyukurlah apa yang telah diberi oleh Tuhan hingga detik ini.

Refleksi Jane X1-12

Setelah wawancara dengan Pak Abun dan Pak Joko, saya jadi merasa bahwa selama ini saya masih belum benar-benar menyadari tentang kemiskinan. dan sekarang rasanya kami semua diajak untuk melihat sendiri kemiskinan yang ada di tempat2 sekitar kami. Karena kami sebagai anak SMA biasanya hanya melihat kehidupan di sekitar kami yang cenderung menengah keatas, dan jarang yang melihat golongan menengah kebawah. Dengan adanya tugas ini saya menjadi melihat sendiri kemiskinan yang terjadi di jakarta saat ini, dan saya merasa sangat malu karena selama ini saya hanya bisa mengeluh dan selalu meminta lebih. Setelah wawancara ini saya jadi merasa disadarkan bahwa kita tidak boleh hanya melihat ke atas tetapi kita harus melihat kebawah juga, karena bagaimanapu keadaan kita, pasti ada orang yang lebih dan kurang daripada kita.
Saya juga jadi lebih menghargai uang karena sekarang saya melihat betapa sulitnya mencari uang. Biasanya saya hanya meminta kepada orangtua tanpa memikirkan bagaimana orangtua susah payah mengumpulkan uang dan saya hanya dapat meminta dan ngambek. Sekarang saya berusaha untuk tidak terlalu banyak meminta hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Dengan wawancara ini saya mendapat banyak hal positif yang berguna bagi saya.

refleksi irene x1-11

REFLEKSI

Seorang penjual nasi goreng pinggir jalan yang saling membantu dalam bekerja membuat saya berpikiran terbuka. Sering kali saya selisih paham dengan saudara saya namun saya sadar bahwa ketika saya mengalami kesulitan oranng yang selalu siap sedia membantu saya tanpa pamrih adalah keluarga. Keluarga saya selalu mendukung setiap langkah yang saya tempuh serta membantu saya ketika saya dalam kesulitan. Mulai sekarang saya akan berusaha mengalah jika terjadi selisih paham karena saya yakin keluarga lah yang paling penting dalam kehidupan setiap orang.


Mereka setia terhadap pekerjaan mereka, meskipun banyak duka yang mereka alami dalam menjalani pekerjaan tersebut. Begitupun dalam kehidupan saya, saya harus lebih berusaha dan pantang menyerah dalam menjalani kehidupan. Saya termasuk orang yang cepat bosan. Namun saya harus dapat meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya dapat melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh dan serius tanpa pernah ada kata menyerah yang terlontar dari mulut saya karena saya yakin saya bisa melakukan sesuatu jika didasari oleh niat dan tekad yang kuat.

Saya termasuk orang yang berkecukupan namun sering kali saya mengeluh dan tidak puas dengan apa yang saya miliki. Saya kagum dengan bapak udin, bapak kiki dan bapak oong. Mereka termasuk golongan menengah kebawah namun mereka selalu bersyukur seberapa banyak penghasilan yang mereka dapat dalam satu hari, yang terkadang kurang memuaskan. Dengan sikap dan rasa ketidak puasan saya itu saya sadar bahwa masih ada orang yang lebih kekurangan dari pada saya. Sekarang saya juga harus lebih menghargai makanan karena sering kali saya tidak menghabiskan makanan saya. Saya menyadari bahwa masih banyak orang yang membutuhkan makanan, sedangkan saya yang diberi kesempatan untuk makan mengapa saya harus membuangnya?


Oleh karena itu tugas yang diberikan dalam mata pelajaran agama kali ini dapat lebih membuka hati saya karena saya dapat memandang hidup dari kacamata masyarakat umum yang kurang mampu dalam ekonominya. Sekian refleksi singkat dari hasil wawancara saya, saya berharap akan selalu bermanfaat dalam hudup saya dikemudian hari.

refleksi religiositas astrid 22

Saya mewawancari ibu Nasidah, seorang tukang cuci dengan 7 orang anak. Saya merasa ia seorang yang cukup terbuka dan baik. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia juga berjualan.
Menantu lelakinya yang pengangguran pun ia hidupi. Menurut saya, jika ia dapat menerima hal tersebut, begitu besar hatinya. Saya cukup prihatin mendengar cerita ibu Nasidah, ia mengaku bahwa untuk masuk ke dalam rumahnya saja ia sudah kesulitan dan harus membungkuk. Malah untuk meninggikan rumahnya saja merupakan harapannya yang paling ia ingin wujudkan. sebagai orang kekurangan di Indonesia, pasti sangat sulit menopang hidup yang begitu berat. Walaupun sudah banyak subsidi yang ada, itu tidak sepenuhnya menolong. Saya merasa begitu bersyukur dilahirkan oleh orangtua yang berkecukupan dan malah terkadang saya dapat memenuhi keinginan-keinginan lain saya diluar kebutuhan pokok. Padahal , hal tersebut sebenarnya hanya untuk memenuhi gaya hidup sebagai orang yang tinggal di ibukota. Makan dengan harga yang mahal misalnya. Sebenarnya dengan 5000 rupiah saja kita sudah dapat kenyang, namun kita bisa menghabiskan 10x lipat uang itu untuk sekali makan. Maka dari itu, saya berusaha untuk selalu tidak boros dan juga selalu bersyukur atas berkah Tuhan pada saya dan keluarga saya. Saya memang terkadang egois untuk memenuhi kebutuhan, rasanya jika tidak mendapatkan apa yang saya inginkan saya sungguh kecewa dan marah, padahal orang-orang lain saja sudah susah untuk memenuhi kebutuhan harian mereka. Susah memang menahan diri, namun kita harus belajar. Dari wawancara tesebut saya juga dapat belajar sedikit. Memang tidak dapat mengubah saya sepenuhnya dan membuat saya langsung menjadi baik, namun ada hal yang membuat saya semakin tahu dan bisa menjadi bahan pembelajaran bagi saya. Semoga saya bisa semakin bijaksana dalam menjalani keseharian saya kedepan.

jashinta X1/13 & Irene X1/11

WAWANCARA
penjual bakmi pi
nggir jalan


Sabtu, 26 April 2008, Kami mewawancarai penjual bakmi goreng

yang membuka sebuah kios dipinggir jalan, tepatnya di depan sekolahan Santa Maria, Jakarta Pusat. Penjual itu bernama bapak Udin. Bapak Udin mengaku sudah berjualan di tempat itu selama bertahun tahun. saya mah sudah menjamur di tempat ini.. orang udah dari tahun ..” Ucap bapak Udin sambil senyum-senyum.

Setelah beberapa saat kami mewawancarai bapak Udin, Saudaranya yang bernama Oong dan adiknya yang terkecil, Kiki datang. Mereka terlihat seperti habis mencuci mangkok2 dan gelas bekas pembeli yang makan di tempat itu.

Kami mulai bartanya sedikit2 tentang kehidupan mereka, dan mereka pun menjawab pertanyaan kami dengan ramah. Begitu kami bertanya sedikit, mereka langsung menjwab dengan semangat dan lengkap. Dari pertama kali bapak Udin yang memiliki ciri khas selalu menaruh sebuah lap di bahu kanannya menjelaskan bagaimana awalnya beliau dapat berjualan di tempat itu sampai keadaan keluarganya yang sekarang menjadi lebih baik setelah ia berjualan di tempat tersebut. “kalo dulu, saya benar2 kesusahan dalam mencari uang, tapi sekarang sih udah mending lah, paling ga udah ada penghasilan tetap dari jualan disini....”

Mereka juga menceritakan bagaimana masa kecil mereka. “...ya saya ingat betul dulu Kiki jadi tidak melanjutkan smp nya karena kita sekeluarga yaaa emang ga bisa menyukupin gitu buat dia sekolah, jadi terpaksa, dia kami ajak berjualan disini deh..” ucap Oong kakak Kiki. Pada saat itu, Kiki malah tertawa2 cengengesan :p

Setelah kami tanya tanya sedikit mengenai penghasilan, mereka langsung menceritakannya “Kalau masalah itu untuk sekarang ini si sudah lumayan lah, paling tidak kann untuk makan hari ini sampai 2 hari kedepan masih bisa.. Cuma kalau untuk keperluan yang gede gede gatau juga deh..haha”

Habis itu kami mengucapkan terimakasi kepada mereka. Setelah kami memutuskan untuk pulang, tiba-tiba kami ingin membeli bubur kacang hijau yang dijual disitu, dan akhirnya kamipun makan sebentar lalu baru pulang :D

Jashinta X1/13 & Irene X1/11

refleksi Jasinta X1-13


Dengan adanya tugas mewawancarai ini, Saya jadi lebih sadar akan pentingnya uang didalam kehidupan ini. Saya jadi merasa harus lebih bersyukur kepada Tuhan atas apa yang sudah saya dapatkan, seperti keluarga yang lengkap, dan perekonomian keluarga yang cukup.

Setelah selesai mewawancarai penjual bakmi goreng pinggir jalan yaitu bapak Udin beserta kedua saudaranya yaitu bapak Oong dan adiknya yang paling kecil yaitu Kiki, Saya jadi sangat mensyukuri kehidupan saya selama ini. Bayangkan saja, sejak usia belia seperti 13-14an tahun, mereka sudah harus berjualan ditempat itu. Dan hal itu dilakukannya dari pagi hingga sore hari, hal tersebut jelas2 menyatakan bahwa mereka tidak mendapatkan pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan.

Kalau saya ingat-ingat, saya sering kali tidak menghargai uang dengan baik. Saya sering kali membeli barang yang tidak terlalu diperlukan, yang akhirnya tidak berguna secara maksimal dalam kehidupan saya, dan sedangkan kalau dipikir, mana mungkin bapak Udin dan saudara2nya bisa melakukan hal itu, karena untuk sekolah saja tidak bisa. Saya akan berusaha untuk menghilangkan kebiasaan saya itu, karena sekarang saya sudah menyadari betapa pentingnya uang dan saya juga sudah bisa sedikit merasakan bagaimana kehidupan orang yang tidak memiliki perekonomian yang cukup.

Friday, April 25, 2008

Kehidupan Seorang Tukang Cat


Pada hari Rabu, tanggal 23 April 2008, kami menemui seorang tukang cat yang sedang bekerja di sebuah rumah. Dengan berbalut kemeja yang terkena cat putih dan celana panjang lusuh yang digulung, beliau menyambut kami dengan ramah. Kami pun meminta izin untuk mewawancarainya mengenai kehidupannya sebagai seorang tukang cat.

Beliau pun mulai bercerita mengenai kehidupan sehari-harinya. Namanya adalah Bapak Wahyu Santoso, usianya baru 35 tahun. Beliau sudah berkeluarga dengan tiga anak. Beliau mulai menjalani pekerjaan sebagai tukang cat pada usia 25 tahun. Hal tersebut dikarenakan keadaan ekonomi yang kurang mendukung sehingga Beliau terpaksa ikut temannya untuk mengadu nasib ke Jakarta. Awalnya beliau bekerja pada suatu proyek. Kemudian beliau terbesit untuk bekerja sebagai tukang cat dengan bekal pengalaman yang telah beliau miliki. Namun pekerjaannya ini hanya merupakan pekerjaan serabutan dimana kalau ada orderan beliau bekerja dan jika tidak maka beliau benar-benar tidak memiliki penghasilan. Maka beliau mempunyai prinsip untuk selalu meyisihkan hasil yang beliau peroleh, dimana berguna sebagai simpanan pada waktu beliau sedang tidak ada oerderan untuk mengecat, agar anak dan istrinya dapat tetap bertahan hidup.

Upah yang diperolehnya pada saat mengecat tidaklah seberapa, tergantung dari keadaan bangunan atau rumah yang akan ia cat. Apakah sedang atau parah, jadi tergantung medannya. Ya, kira-kira upah yang didapatnya sebesar Rp 75.000,00 per hari. Namun, dengan upah yang seadanya, ia tetap berusaha untuk bertahan hidup. Karena dalam pendiriannya Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak dapat di hadapi atau yang tidak sanggup dihadapi oleh umatnya. Ia yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu ada menyertai hidupnya.

REFLEKSI SINGKAT ( AYU ) :

Setelah saya dan Patricia berbincang-bincang dengan Pak Wahyu, saya menjadi sadar bahwa masih banyak orang-orang yang lebih sulit, kekurangan secara materi. Namun, mereka tetap survive dan bertahan hidup dengan segala tuntutan hidup yang tinggi dan kebutuhan ekonomi yang banyak. Terlebih lagi Pak Wahyu harus mengidupi ketiga orang anaknya yang masih kecil. Saya menjadi semakin sadar bahwa kehidupan itu keras. Tetapi seberapapun sulitnya kehidupan ini, semuanya tetap harus kita serahkan kepada Tuhan, kita tetap harus percaya bahwa tuhan selalu ada bersama kita. Seperti pak wahyui yang yakin bahwa Tuhan selalu menyertai nya, padahal beliau hidup dalam kekurangan, tetapi beliau tetap yakin adanya Tuhan, kita yang masih diberikan kecukupan, masih dapat bersekolah tanpa pusing memikirkan biaya, harus menjadi orang yang pandai bersyukur. Berterimakasih kepada Tuhan atas segala nikmat dan karunia yang Tuhan berikan .

Refleksi (Patricia):

Dari hasil wawancara tadi dengan seorang tukang cat tersebut, saya semakin lebih menghargai jerih payah orang lain terutama orang tua saya yang masih bisa menghidupi keluarga saya setiap harinya sampai saat ini, melihat bahwa ada orang lain yang belum tentu mendapatkan penghasilan tiap harinya. Saya juga merasa bahwa uang yang kita miliki sekarang harus kita jaga sebaik-baiknya dan kalau perlu kita sisihkan karena kita tidak tahu kapan saat nya kita membutuhkan uang tersebut. Terlebih, masih banyak orang yang disekitar kita yang untuk memenuhi kebutuhan pada hari itu saja belum bisa. Oleh karena itu saya benar-benar merasa bersyukur kepasa Tuhan YME karena Ia masih memberikan saya anugrah yang cukup berlimpah saat ini.

Disusun oleh

Ayu Pramesti X1-02

Patricia margaretha X1-21

Refleksi Ajeng X1-25

Refleksi Religiositas

Ajeng X1-25

Setelah melihat kehidupan Pak Anto, saya belajar bahwa yang paling penting adalah rasa syukur. Pak Anto di tengah kekurangannya masih dapat mensyukuri bahwa ia masih bisa bekerja dan masih bisa mendapat uang untuk anak dan istrinya di kampung. Materi bukanlah segalanya. Yang penting kita dapat mensyukuri apa yang kita dapat dari Tuhan. Tidak perlu ada segala macam. Asala kita bisa makan pun kita harus bersyukur, untuk apapun yang kita dapatkan.

Refleksi ~ Linsy

Hidup itu harus dibikin senang...Dalam keadaan apapun...


Walaupun susah, tetap saja kita harus senang, maksudnya bersyukur... Bersyukur atas apa yang diberikan oleh Tuhan kepada kita.
Pak Tono, sosok yang sangat optimis terhadap hidupnya. Walaupun profesinya tidak sebesar jutawan, namun beliau tetap senang menjalaninya (Memang harus begitu).


Kagum...Satu kata yang saya berikan pada beliau...


Walaupun dari dialog yang sederhana, dapat membuat saya menyadari bahwa hidup menjadi lebih berarti kalau kita menyenanginya. Maka dari perasaan tersebutlah dapat membuat kita mempertahankan sesuatu. Sesuatu yang harus diperjuangkan untuk masa depan kita...

Sesuatu yang harus kita syukuri...

Sesuatu yang memiliki hikmah tersendiri...


Selalu berjuang dan bersyukur, pasti akan menghasilkan buah yang berlimpah. Selamat berjuang, Pak!



~Linsy X1-16~


Wuenakkk...

"Mama, Mama...Panas ni...Pengen rujak buah di pojok situ..."

~ sejenak tapi enak ~



"Pak...Pak...Boleh ganggu sebentar ga? Saya mau wawancara Bapak..."

"Buat apa...?"

"Buat tugas sekolah Pak..."

"Yak, mau tanya apa...?"

"Itu Pak..." (pikir-pikir)



Hmm...Saya tidak menyangka akan mewawancarai Pak Tono...Ituloh...Yang berjualan pake kereta biru, di dalam keretanya ada macam-macam buah...Buahnya di dalam plastik...Dimakan dingin-dingin...(Waduh...Bikin ngiler ni...)...Hayo, apa profesinya?


Yap! Betul banget! Pak Tono itu adalah seorang pedagang rujak buah. Mangkalnya di salah satu tikungan ruko-ruko di Permata Buana.


Jam mangkal : 11.30 - 17.30


Hari mangkal : tiap hari dong...



1990...


Tahun di mana Pak Tono (43) mulai berjualan rujak buah (Saya belum lahir tuh..).


Asalnya Jawa Tengah, tapi beliau pindah ke Jakarta untuk mencari nafkah... Ia tinggal sendiri di Jakarta, sedangkan istri dan dua anaknya di Jawa Tengah...



"Sekarang tinggal di mana Pak...?"


"Saya tinggal di Bojong...Bojong Kampung situ..."


"Ohh...Tiap hari penghasilan Bapak berapa?"


"Kurang lebih Rp 30.000,- tiap hari..."


"Untuk kebutuhan sehari-hari cukup, Pak?"


"Ya dicukup-cukupin..."


Waaa...Bapak hebat juga, dapat bertahan dengan penghasilan Rp 30.000,- per hari...(dalam hati)...


Hmm...Tanya apa lagi ya...(bingung)...


.....


.....


.....


"Ya harus seneng dong..."



Ketika ditanya apakah Pak Tono senang dengan pekerjaannya, sebuah kalimat terucap...Bagi saya, kalimat tersebut sangatlah bermakna...


~ " Ya harus seneng dong..." ~


Itulah kata yang terucap oleh Pak Tono...Berdengung di telinga saya...



Mmm...Tapi ternyata ada dukanya juga lho....


Ketika musim hujan, orang-orang yang membeli semakin sedikit. Karena hawa yang dingin, orang-orang pun mencari makanan yang hangat...(Tidak seperti saya...Sudah hujan, makan es krim pula...)


Sekianlah pertanyaan dari saya...(Sangking bingungnya...)


Sebelum mengakhiri dialog ini...


"Pak, saya foto ya?"

"Difoto buat apa?"

"Buat dimasukkin di internet, Pak..."

"Ntar fotonya kebakar lho..."

"Enggaklah, Pak...Hehe..."

"1..2..3...Klik!"


Ini dia foto Pak Tono....


"Oke deh...Makasi banyak ya, Pak!"

~Linsy X1-16~

Refleksi Pribadi Giovanni_9

Refleksi Religiositas

Pelajaran religiositas ini saya mewawancarai seorang ibu yang bernama Ibu Mumun. Beliau ini seorang penjual makanan kecil di depan sebuah sekolah. Dari wawancara tersebut, saya jadi mengetahui bahwa di luar sana, masih banyak masyarakat yang sangat kekurangan. Bahkan untuk menghidupi keluarganya saja secara layak sudah cukup sulit. Walaupun dirinya sudah bekerja keras, namun tetap saja berkekurangan.





Saya, dan juga banyak anak-anak lain, yang hidupnya bisa dikatakan mapan, malah sering tidak menghargai uang hasil kerja keras orang tua kita. Misalnya, kita sering membeli barang-barang yang menurut kita lucu atau bagus, tetapi sebenarnya tidak terlalu penting untuk kita. Karena kita sering berpikir ‘Ah, nanti gue masih dapet uang lagi kok, dari bokap nyokap gue.’ Padahal sebenarnya, kita bisa menabung uang yang tidak terpakai itu untuk keperluan yang lebih mendesak lainnya. Atau sebenarnya, bisa saja kita berpikir untuk menyumbangkan uang tersebut daripada harus menghambur-hamburkannya.

Kita masih hidup enak sebenarnya, semua serba ada dan berkecukupan, tanpa kita harus bekerja keras dan meninggalkan sekolah kita. Sedangkan Bu Mumun dan keluarganya harus serba kekurangan walaupun telah disertai dengan kerja keras. Belum lagi kalau barang dagangannya disita oleh petugas kamtib yang senantisa datang tiap hari, sehingga mereka harus bersembuyi sementara. Dengan wawancara tersebut, saya jadi menyadari betapa susahnya untuk mencari uang, dan betapa beratnya perjuangan yang harus dilakukan. Saya juga jadi lebih menghargai uang yang saya miliki. Yang tadinya saya berpikir ‘Ah, cuma berapa ribu ini, nggak apa-apa deh’, sekarang saya menjadi berpikir untuk menyimpan uang tersebut, yang lama-lama kalau dikumpulkan terus menjadi sejumlah uang yang lumayan banyak.

Atau kadang sebagian dari kita juga berpikir bahwa orang tersebut menjadi miskin atau menjadi orang yang tidak mampu memang karena kemalasan mereka saja. Tetapi beliau ini yang menjadi bukti bahwa tidak selamanya orang yang tidak mampu itu malas, dan tidak selamanya juga orang miskin itu akan menjadi orang yang kaya dan berkecukupan. Ada kalanya mereka tetap menjadi seperti itu walaupun telah berusaha keras untuk merubahnya. Karena cara Tuhan untuk mengasihi tiap anak-Nya itu berbeda-beda dan hanya Tuhan yang tahu nasib tiap orang.

Giovanni

X1-9

Syukur




Setiap manusia itu pastinya diberi berkat yang berlainan oleh Tuhan. Ada yang menerima berkat yang sesui dengan harapannya bahkan lebih, ada juga yang justru jauh dari harapannya. Terkadang, memang sulit menerima bila berkat yang diberikan oleh Tuhan tidak sesuai dengan harapan kita. Tapi apa mau dikata, sebagai manusia kita hanya bisa menerima. Namun apabila berkat yang diterima selalu disyukuri, walaupun itu hanya berkat yang kecil akan besar manfaatnya dan akan terasa indah, seperti yang dialami oleh Bapak Saelan dan Bapak Wardiman.

Pak Saelan berumur 42 tahun, sementara Pak Wardiman berumur 37 tahun. Pekerjaan sehari-hari mereka adalah tukang sampah sebuah perumahan di kota Bogor. Setiap dua hari sekali mereka berkeliling mengambil sampah dari rumah ke rumah di tong sampah yang sudah disediakan. Sedikit beruntung karena mereka diberi fasilitas berupa sebuah mobil pick-up, sehingga mereka tidak terlalu capek dan repot berkeliling hanya untuk mengambil sampah. Selain itu mereka juga masih harus memisah-misahkan berbagai jenis sampah yang sudah terkumpul di bak mobil. Dengan segala daya upaya mereka yang harus menghadapi sampah-sampah yang bau itu, mereka hanya diupah Rp 450.000,00 per bulannya.

Pak Wardiman sudah menggeluti profesi ini sejak setahun yang lalu. Ia hidup bersama istri dan seorang anaknya. Uang 450.000 rupiah masih cukup untuk hidup sebulan walaupun sederhana. Disamping itu, istrinya bekerja sebagai buruh cuci walau dengan upah yang tidak seberapa. Namun itu semua masih mencukupi. Bayaran sekolah anaknya jarang pernah menunggak dan sehari-hari mereka masih cukup makan. Bila lebaran tiba, Pak Wardiman masih mampu untuk membelikan anaknya baju baru. Bahkan masih ada kesempatan menabung walaupun tidak seberapa. Sebelum menjadi tukang sampah, Pak Wardiman sempat menjadi sopir angkot. Karena itu ia bisa menyetir, dan keahliannya itu dipakai sampai sekarang untuk menyetir mobil pengangkut sampah.

Sedikit berbeda bagi Pak Saelan yang hidup bersama istri dan keempat anaknya, tentu uang 450.000 rupiah tidak cukup. Ditambah 2 dari keempat anaknya masih bersekolah. Untuk makan saja sudah memberatkan. Bila dirata-rata, sehari mereka hanya hidup dengan uang sejumlah Rp 10.000,00 lebih sedikit. Bila dibagi 6 orang, maka jatah seorangnya hanya sekitar seribu – 2 ribu rupiah. Untuk makan sekali sehari saja sudah tidak cukup. Maka untuk mencukupkan hidup, Pak Saelan kerap kali mengambil sampah-sampah organik untuk diolah menjadi kompos kemudian dijual. Istrinya juga membantu dengan berjualan bersama kedua anaknya yang sudah tidak bersekolah. Hasil tambahan itu dipakai untuk menambah jatah makan dan untuk membiaya sekolah anak-anaknya yang masih SD. Pak Saelan berharap setidaknya walaupun mereka tidak bisa sampai tuntas sekolah, mereka masih bisa membaca dan menulis sehingga tidak dianggap bodoh. Pak Saelan masih bersyukur dengan segala kekurangannya itu, ia tidak pernah berpikir untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak halal.


Pak Saelan dan Pak Wardiman orangnya baik dan rendah hati serta ramah walaupun sedikit pemalu. Sulit mengajak mereka untuk berfoto bersama. Saya sendiri sedikit tidak enak untuk meminta mereka berfoto bersama karena mereka menolak terus. Maka saat saya katakan bahwa ini adalah tugas, mereka mau juga difoto walupun posenya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Bagi mereka berdua, segala macam pekerjaan yang diberikan pada mereka adalah berkat dari Tuhan, yang harus diterima dengan penuh rasa syukur, terlebih karena pekerjaan itu halal.





Refleksi :
Kerap kali, kita yang diberi berkat berlebih oleh Tuhan justru lupa untuk bersyukur. Padahal bila dibanding dengan kehidupan Pak Saelan dan Pak Wardiman, sungguh jauh sekali perbedaan yang ada. Maka penting bagi kita untuk terus bersyukur atas segala apa yang kita terima. Jangan hanya menuntut, meminta, menuntut dan meminta. Bila kita mendapatkan sesuatu yang buruk, berpikirlah positif. Disitu Tuhan ingin menyadarkan kita supaya tidak lupa kepada-Nya. Saat kita mendapat sesuatu yang baik, jangan pernah lupa untuk mengucap syukur, jangan hanya larut di dalam kegembiraan itu. Disamping itu, bagi kita, mendapat uang itu mudah. Sementara bagi Pak Saelan dan Pak Wardiman, hal ini sungguh teramat sulit. Untuk itu kita harus mulai sadar bahwa segala sesuatu harus didapat dengan perjuangan. Rencana Tuhan selalu indah pada waktunya ..

Tuhan memberkati.


* Yosepha A. (Joe) . X1 . 31 *


Belajar dari Kemiskinan (Geni X1/8-Tia X1/23)


Pada hari Jumat, 25 April 2008, kami, Geni (8) dan Tia (23), mewawancarai Pak Pardi (38), seorang pemilik warung penjual kebutuhan sehari-hari di dekat rumah Tia di daerah Pondok Bambu. Pak Pardi menyewa sebuah rumah sederhana di dekat warung miliknya untuk dijadikan tempat tinggalnya bersama istri dan 1 orang anaknya. Pak Pardi sudah menggeluti usahanya ini selama kurang lebih 5 tahun, semenjak dia dan keluarganya pindah dari Tasik, kampung halamannya. Setiap hari Pak Pardi memulai hari dengan mengambil barang-barang dagangan dari distributor, lalu mulai menata dagangannya dan berjualan sampai malam. Adapun barang-barang dagangannya berupa kebutuhan sehari-hari seperti sabun, baterai, kecap, minuman sachet dan lain-lain. “Yahh, bapak ini kan hanya pedagang kecil, pemilik warung begini saja… Sudah bisa makan dan nyekolahin anak saja sudah syukur…”, ucap Bapak ini sambil tersenyum ketika ditanya tentang pekerjaan yang digelutinya. Kami sangat kagum dengan Pak Pardi karena melihat warungnya yang berkapasitas minim dan tentu saja tanpa hiburan, Pak Pardi sangat hebat karena selalu gigih dan tidak jenuh untuk selalu berusaha keras demi menafkahi keluarganya. Pak Pardi sehari-harinya bisa mendapat keuntungan kira-kira 10 sampai 20 ribu dari barang-barang dagangannya. “Ya tapi namanya juga jualan, ya untung-untungan, nggak bisa selalu untung…kalau lagi banyak rejeki ya syukur, tapi kalau memang lagi sepi ya bapak harus bisa nanggung resikonya…”, komentar Pak Pardi soal penghasilannya. Dari penghasilannya sebagai pemilik warung tersebut, Pak Pardi harus bisa mencukupi untuk makan keluarganya sehari-hari dan membiayai sekolah anaknya. Apalagi, istri Pak Pardi tidak berpenghasilan karena sulitnya mendapat pekerjaan di Jakarta. Kami juga sempat menanyakan apakah Pak Pardi senang dengan pekerjaan dan penghasilannya sekarang dan beliau pun menjawab, “Yahh.. kalau ditanya senang atau nggak ya bapak sih senang-senang aja, toh masih syukur sekali bapak masih dikasih sama Yang Di Atas kerja begini, daripada jadi pengangguran…”. Bagi Pak Pardi, yang paling penting adalah kerja keras demi menafkahi keluarga dan menyekolahkan anak tunggalnya sehingga nantinya bisa menjadi lebih baik dan berhasil dari dirinya. Dalam wawancara singkat bersama Pak Pardi ini, kami mendapatkan kesan yang mendalam dan juga pelajaran untuk selalu mensyukuri apa yang kami punya. Kami mengucapkan banyak terima kasih untuk Pak Pardi atas kesediaan dan waktunya untuk diwawancarai.

 

REFLEKSI GENI X1/8

 

Kemiskinan memang bukan hal yang baru di kehidupan kita. Malahan, sebaliknya, kemiskinan begitu dekat dengan kehidupan kita. Jakarta, contohnya, kota kita yang penuh dengan segala macam aspek kemiskinan. Miskin moral, miskin ekonomi, miskin pendidikan, miskin sosial dan banyak lagi. Kemiskinan memang tidak bisa hanya dinilai dari materi, melainkan segala macam bentuk kekurangan yang tentu saja bisa kita kategorikan macam-macam. Tugas religiositas kali ini untuk mewawancarai salah satu korban kemiskinan, membuat kita mau tidak mau bersentuhan langsung dengan kemiskinan yang mungkin selama ini kita pandang sebelah mata. Bagi saya pribadi, wawancara ini semakin memantapkan saya untuk jangan pernah lupa untuk bersyukur atas apa yang ada pada diri kita, untuk selalu ingat bahwa begitu banyak orang di sekitar kita yang butuh perhatian. Cerita Pak Pardi, hanya satu dari sekian banyak cerita-cerita kemiskinan yang berfungsi sebagai alarm buat saya dan semua orang, untuk sekedar sadar bahwa semua yang diberikan pada kita patut disyukuri dan dimanfaatkan. Untuk sekedar ingat akan Tuhan yang selalu memberi kita yang terbaik. Saya belajar untuk lebih memperhatikan dan mendengarkan orang lain, tanpa membeda-bedakan status sosialnya, serta untuk lebih mencoba mengerti dan membantu orang-orang lain yang kesusahan.

Saya juga jadi lebih memahami dan menghargai jerih payah orangtua saya untuk mencari nafkah dan membiayai semua keperluan saya sehingga saya tidak kekurangan dan bisa mendapat hidup yang layak. Saya jadi lebih menghargai uang karena mengetahui betapa sulitnya mencari uang walaupun hanya sekedar untuk makan hari ini saja. Kehidupan yang selama ini saya jalani sangat patut saya syukuri karena dengan wawancara ini saya semakin mengerti, bahwa segala hal tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita, bahwa dalam kehidupan, begitu mudah kita bisa jatuh dalam kemiskinan. Bisa saja besok saya tidak lagi bisa sekolah seperti sekarang, atau mungkin tahun depan saya harus mengemis untuk sekedar mengganjal perut, karena kita tidak bisa tahu kapan kita akan kehilangan semua yang kita punya sekarang. Maka dari pelajaran ini saya akan berusaha untuk selalu bersyukur sebelum saya kehilangan semua yang bisa saya syukuri sekarang.

Juga dari wawancara ini, saya merasa disadarkan untuk ikut ambil bagian untuk membantu orang-orang yang kesulitan dan kesusahan seperti Pak Pardi, karena saya semakin yakin, bahwa dengan bantuan dari saya, sekecil apapun, pasti akan membuat perubahan untuk menjadi lebih baik. Jadi saya akan selalu berusaha memberikan yang terbaik dan melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk menolong orang-orang yang kesulitan.

Dari Pak Pardi, saya belajar, bahwa sekeras apapun hidup kita, dan sebagaimanapun susahnya kehidupan yang diberikan pada kita, kita harus menjalaninya dengan ikhlas dan tentunya penuh rasa syukur karena Tuhan pasti memberikan yang terbaik, maka kita harus selalu tersenyum dan senang menjalani hidup kita :)

REFLEKSI TIA X1/23

Setelah kami mewawancarai pak Pardi, saya melihat betapa keras perjuangan pak Pardi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Saya kagum akan kegigihannya dalam menafkahi keluarganya. Walaupun ia hanya mendapatkan penghasilan yang tidak seberapa, ia tidak pernah mengeluh, melainkan terus tabah dan tetap bersyukur, juga bekerja keras. Perjuangan pak Pardi mengingatkan saya bahwa segala hal yang saya miliki, diperoleh dari kerja keras orang tua saya. Saya yang sudah dapat menikmati hidup dengan mudah, tanpa perlu bekerja mencari uang dengan penghasilan pas-pasan setiap harinya masih juga mengeluh jika saya tidak diijinkan membeli sesuatu yang saya inginkan. Padahal hal itu tidak terlalu saya butuhkan dan saya tidak menyadari bahwa untuk mencari uang tidaklah mudah. Dengan ini saya bertekad untuk memanfaatkan uang yang telah diperoleh orang tua saya dengan sebaik-baiknya dengan cara belajar yang rajin agar tidak mengecewakan mereka. Saya juga akan lebih menghargai orang-orang seperti pak Pardi ini karena saya menyadari bahwa perjuangan mereka untuk dapat bertahan hidup tidaklah mudah, tetapi mereka dapat melalui semuanya tanpa mengeluh, dan dengan penuh syukur.

Refleksi Vien (30)

Menurut saya, kehidupan Pak Anto terbilang cukup sederhana tetapi hidupnya tidak terbilang “menderita” karena ia dapat mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya walaupun mungkin pas-pasan. Masih banyak orang diluar sana yang untuk makan hari ini saja masih belum tahu mendapat makanan yang dapat mengenyangkan atau tidak. Sedangkan kehidupan Pak Anto mungkin kehidupan para penjaja bakso yang masih dikategorikan beruntung karena ia tidak usah memikirkan tempat tinggal lagi. Tempat tinggal yang “dipinjamkan” oleh sang majikan sangat membantu kehidupan beliau karena ia sendiri mengaku bahwa setiap harinya ia hanya memikirkan sepiring nasi untuk dirinya sendiri karena istri dan anak satu-satunya berada di kampung halamannya. Baginya menjadi penjaja bakso saja sudah cukup bagi kehidupannya. Setidaknya, ia setiap bulannya pasti menghasilkan uang, tidak seperti pengangguran-pengangguran yang banyak terdapat di kota-kota besar seperti Jakarta ini. Pelajaran yang dapat diambil dari kisah Pak Anto adalah ia mau bekerja keras mendorong gerobak baksonya setiap hari tanpa rasa putus asa dan lelah, hal ini terbukti karena ia sudah menjadi pedagang bakso keliling ±13 tahun. Bukan waktu yang singkat tentunya. Suatu kesalutan tersendiri untuk Pak Anto yang mau bekerja keras untuk hidup. Ia tetap tabah menjalani hidupnya sehai-hari walaupun pasti terkadang rasa jenuh menghampirinya Pak Anto tetap setia dalam pekerjaannya menjajakan mangkuk demi mangkuk bakso, setidaknya untuk mengisi perutnya hari itu. Mungkin, faktor keterbatasan SDM itu sendiri yang menyebabkan Pak Anto mempunyai keinginan untuk memulai usahanya yang belasan tahun sudah ditekuninya ini. Ketika ditanya mengapa ia tertarik untuk memulai usaha ini, ia menjawab : “Mau kerja apa lagi?” Apakah segitu susahnya mencari sepiring nasi di negara kita ini? Masih banyaknya pengemis juga menunjukkan bagaimana kegiatan ekonomi di Indonesia terutama untuk masyarakat-masyarakat kecil yang minim pendidikan. Tetapi setidaknya masih ada niat dalam diri Pak Anto untuk bekerja keras. Tidak seperti para peminta-minta yang menurut saya kurang mempunyai semangat juang untuk hidup karena tidak bekerja dan berusaha mencari pekerjaan yang seadanya tetapi hanya meminta-minta di pinggir jalan. Dengan mendengar cerita dari Pak Anto, menjadikan saya lebih mempunyai semangat untuk terus mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Walaupun memang pendidikan bukanlah jaminan pasti akan masa depan yang cerah. Tetapi, setidaknya pendidikan menjadi bekal untuk masa depan yang lebih baik. Saya juga harus bersyukur kepada kehidupan yang telah Tuhan berikan karena saya masih berada di tengah kedua orang tua yang terus mendukung dan mampu mengusahakan yang terbaik untuk saya.

Penjual Bakso di Suatu Sore Berhujan




Sore itu kami sedang berjalan-jalan di daerah Otista yang keadaannya cukup ramai. Di sana banyak terdapat penjual makanan dan terdapat dua buah mini market, sehingga bisa dipastikan di daerah itu banyak orang berkegiatan sehingga tidak sepi. Saat itu hujan turun rintik-rintik, namun masih banyak saja orang yang berlalu lalang tanpa menghiraukan hujan. Akhirnya kami memutuskan untuk berteduh di depan Alfamart. Ternyata di situ ada seorang penjual bakso. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Ajeng pun langsung menghampiri penjual bakso tersebut dan memesan semangkuk bakso telur karena memang pada saat itu Ajeng sedang lapar.
Setelah selesai makan dan hati senang karena perut kenyang, kami mulai mengajak penjual bakso tersebut mengobrol. Pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan pun dijawab dengan ramah olehnya. Ternyata, penjual bakso yang bernama Pak Anto itu sudah mulai berjualan bakso keliling sejak tahun 1995.
Setiap harinya, Pak Anto keluar dari rumahnya untuk mulai berjualan pada pukul 15.00. Beliau pergi dari rumahnya yang berlokasi di daerah Cipinang, kemudian berkeliling, dan akhirnya sampai ke daerah Otista. Setiap harinya, Pak Anto mangkal di daerah Otista (tempat kami mewawancarainya) hanya sekitar 1 jam, lalu kembali berkeliling, dan akhirnya pulang kembali ke rumahnya pukul 23.00 malam setelah bakso yang ada di gerobaknya habis terjual.
Ketika ditanya mengapa menjadi penjual bakso, Pak Anto menjawabnya sambil tertawa. Katanya, mau kerja apa lagi, lebih baik jadi penjual bakso daripada tidak bekerja atau menganggur. Paling tidak, penghasilannya sehari jika semua bakso yang ada di gerobaknya habis terjual berkisar antara Rp 50000,00 sampai Rp 60000,00 dengan harga eceran per mangkok Rp 4000,00 bisa ia peroleh untuk menghidupi seorang istri dan seorang anak di kampungnya.
Ternyata, gerobak yang dimiliki bukanlah gerobak miliknya. Ia hanya bertugas berkeliling untuk menjajakan bakso majikannya, ia juga mengatakan bahwa gerobak bakso tersebut juga milik majikannya itu. Bahkan, kehidupan Pak Anto di Jakarta hamper sepenuhnya ditunjang oleh seorang majikan. Semua modal berjualan Pak Anto serta tempat tinggal dan semua kebutuhannya disediakan oleh majikannya. Jadi, istilah kasarnya ‘tinggal mikirin makan untuk sehari-hari aja’.
Ketika ditanya suka duka menjadi penjual bakso, Pak Anto menjawab layaknya tukang bakso keliling biasa. Pak Anto jarang mendapat pesanan seperti untuk pesta ulang tahun atau hajatan dan semacamnya. Selain itu, hal yang terberat selama ia berjualan bakso adalah pada saat sedang maraknya isu seperti pemakaian bahan kimia pada bakso atau bakso yang terbuat dari daging tikus, jumlah pembeli menurun drastis. Tetapi untungnya para langganan yang sudah percaya tetap membeli. Walaupun begitu, tetap saja pembeli bakso Pak Anto sangat sedikit. Itulah duka yang sampai saat ini masih dikenang Pak Anto.
Obrolan kami ditutup dengan foto bersama. Selamat berjuang dalam usaha, Pak Anto!

Disusun oleh : Ajeng (X1-25)
Vien (X1-30)

Thursday, April 24, 2008

Refleksi Abeth X-1/5


refleksi

Setelah mengenal lebih jauh seorang pedagang kue pisang bernama mbah Menu yang begitu tabah menghadapi keterbatasan ekonomi, saya jadi bisa mensyukuri kehidupan yang telah diberikan Tuhan kepada saya. Saya jadi menyadari bahwa untuk mendapatkan uang membutuhkan usaha yang tidak mudah. Butuh suatu usaha dan jerih payah yang harus dikorbankan.

Kehidupan yang kita alami sekarang tidak melulu akan menjadi seperti ini. Roda akan terus berputar, ada kalanya kita hidup enak serba kecukupan, ada kalanya akan mendapat suatu kesulitan dan cobaan seperti yang dialami oleh mbah Menu. Semuanya merupakan misteri dari Tuhan. Maka, kita harus terus berserah dan bersyukur kepada Tuhan atas pemberianNya.

Saya jadi menyesal selama ini telah menggunakan pemberian Tuhan tidak dengan sebaik-baiknya. Saya sering meminta dan menggunakan uang untuk keperluan yang tidak terlalu penting, padahal tidak mudah bagi orang tua untuk mendapatkannya. Saya menyadari bahwa mendapatkan uang dibutuhkan jerih payah. Untuk itu sekarang saya perlu menentukan skala prioritas kebutuhan dan berhemat serta tidak dengan mudah meminta uang dari orang tua untuk kebutuhan yang tidak terlalu penting. Selain itu, saya sekarang harus lebih menghargai dan mensyukuri apa yang telah Ia berikan. Bukannya melulu meminta dan bersungut-sungut saat ada permintaan yang tidak dikabulkan, dan tidak akan cepat mengeluh ketika mendapat kesulitan.

Laporan wawancara Abeth (5) Celine (7)



Di sela-sela kemewahan gedung-gedung bertingkat pusat perbelanjaan yang cukup terkemuka di kawasan Jakarta Barat, Mbah Menu (58) tengah menata kotak-kotak berisi kue pisang diatas sebuah gerobak tua yang sehari-hari menjadi temannya untuk mendapat sesuap nasi.

Yahh nduk…saya ini kan hanya pedagang kecil, kalo bisa makan buat sehari-hari saja sudah allhamdulilah…”. Kata-kata inilah yang muncul ketika kami mewanwancarainya di sekitar pemukiman kumuh dibelakang kemewahan gedung bertingkat Mall Taman Anggrek dan Mall Ciputra, Kamis 24 April 2008 yang lalu.

Setiap harinya Mbah Menu menjajakan kue pisang dengan gerobaknya dari pukul 7 pagi hingga pukul 9 malam. Nenek yang mempunyai 5 anak dan 4 cucu ini sekarang menggantikan pekerjaan anaknya yang tidak dapat berjualan karena harus mengurus bayi yang masih sekitar 2-3 bulan. Beliau memulai pekerjaan ini masih belum lama, dimulai pada bulan Februari yang lalu sejak anaknya melahirkan seorang bayi laki-laki. “Biasanya mbah dirumah nduk, ini mumpung anak mbah sedang ngurus bayi saja,” tuturnya ramah. Mbah Menu dengan tabah menjalani profesi ini karena tuntutan kebutuhan yang semakin banyak. Di usianya yang sudah tua, ia masih harus membiayai seorang anaknya yang belum berumah tangga. Ia pun hanya tersenyum ketika kami bertanya mengenai kehidupan dan pekerjaan yang sebenarnya diinginkan. “Lha wong mbah ini sudah tua, cuma orang ngga punya…yang bisa dikerjakan yaa cuma jualan saja,” katanya sambil tersenyum lirih.

Dari pekerjaan tersebut, mbah Menu setiap harinya mendapat keuntungan rata- rata sekitar Rp 30.000,00/kotak. Kalau dagangan sedang laris bisa saja sampai laku 8 kotak. Tetapi jika sepi atau sedang tanggal tua biasanya hanya bisa laku sekitar 3-4 kotak. Sebelum berjualan, biasanya beliau mengambil kue pisang tersebut dari sebuah agen kemudian baru menjajakannya di gerobak. Hasil yang didapat juga tidak tentu, tergantung ramai tidaknya pembeli. “Pinginnya sii laris terus biar untungnya juga banyak, tapi kalau tanggal segini biasanya sepi…yaa ngga tentu dapet untung berapa, kalau lakunya sedikit, cuma bisa buat makan hari ini saja,” katanya.

Namun demikian, ia tetap tabah dan sabar hidup dalam keadaan seperti itu. Pekerjaan ini pun tentu saja diwarnai dengan suka duka. Mbah Menu mengatakan bahwa sukanya ketika dagangan sedang laris. “Senengnya kalo tanggal muda nduk, dagangan jadi laris…tapi kalau sedang sepi yaa namanya pedagang ngga bisa sedih,” ujarnya. Percaya dan bersyukur kepada Allah merupakan pegangan hidup baginya. Bebannya kini tidak terlalu berat dibandingkan dengan yang dulu, hal ini karena keempat anaknya sudah berumah tangga dan dapat mencari nafkah sendiri untuk keluarganya. “Sekarang mbah cuma bisa begini saja nduk, lhaa wong mbah ini sudah tua…yang penting percaya saja sama yang diatas,” tuturnya sambil tersenyum.


Refleksi Thea X-1/3

Setelah saya mewawancarai Bapak Abun, saya merasa salut dengan pejuangan hidup Bapak Abun. Sama juga dengan Bapak Joko. Saya juga merasa salut dengan dia, yang menggunakan kemampuan yang ada untuk mencari pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka berdua tidak merasa lelah. Mereka selalu berjuang dan tidak pernah menyerah. Mereka pun tidak pernah mengeluh dengan apa yang mereka miliki sekarang ini. Dengan perjuangannya itu, Bapak Abun pun bisa menyekolahkan 3 anaknya itu dan bisa menghidupi keluarganya. Dan kadang-kadang dari penghasilannya itu, ia pun bisa menabung.
Setelah mendengarkan cerita hidup dari Bapak Abun dan Bapak Joko, saya sadar bahwa kalau kita mau berjuang, menjalankan ini semua tanpa beban dan selalu bersyukur, pasti Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik buat kita, karena Tuhan sangat menyayangi kita semua. Sekarang, saya pun merasa bersyukur dengan apa yang saya miliki sekarang.Walaupun kadang-kadang saya masih tidak puas dengan apa yang saya miliki dan sering sekali mengeluh. Tetapi saya sadar, bahwa janganlah mengeluh melainkan bersyukurlah dengan apa yang kita miliki sekarang ini. Karena diluar sana masih ada orang yang lebih susah dan mereka pun tidak pernah mengeluh dengan keadaan mereka.Melainkan mereka selalu bekerja keras dan menjalani semuanya tanpa beban.

idaX1/10_maureenX1/19

Kisah Seorang Penjual Cakwe


Pada hari Selasa, 22 April 2008 kami berbincang-bincang dengan seorang ibu penjual cakwe yang berjualan di pinggiran Ruko Citra Garden. Ibu ini bernama Memey. Beliau mengaku telah 6 tahun berjualan cakwe di tempat ini bersama suaminya. Untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, Bu Memey dan suaminya harus berjualan cakwe di pasar pada pagi hari, lalu kemudian mereka pindah berjualan di depan Ruko Citra Garden dari jam 3 siang hingga pukul 9 malam. Jika tidak cakwe yang mereka jual tidak akan habis dalam satu hari. Apalagi beliau mengaku bahwa ia sering mengalami kerugian pada musim hujan karena sedikitnya pembeli pada saat hujan.
Cakwe Ibu memey dan suaminya ini memang sudah terkenal dari dulu karena cakwenya yang enak dan murah meriah. Walau pendapatannya sehari hanya 100 ribu rupiah bila sedang ramai, beliau mengaku merasa senang dapat memuaskan para pelanggannya. Dari hasil pengamatan kami, Ibu memey selalu bersikap ramah terhadap pelanggannya. Tidak heran bila Ia telah memiliki beberapa pelanggan tetapnya yang seringkali memesan cakwenya.
Dari pendapatannya setiap hari, Ibu berumur 38 tahun ini mengaku merasa sulit untuk memenuhi kebutuhannya setiap hari. “Semuanya harus dicukup-cukupin, mana sekarang harga barang-barang kebutuhan hidup mahal. Hidup makin lama makin sulit,,” ucap Ibu Memey sambil tersenyum getir.
Ibu beranak tiga ini merasa bersyukur bahwa setidak-tidaknya dengan minimnya pendapatannya, ia tetap dapat menyekolahkan salah satu putrinya di salah satu sekolah negeri dengan bantuan subsidi dari pemerintah. Anak bungsunya yang masih bayi baru berumur 4 bulan sedangkan anaknya yang pertama berumur 7 tahun. Setiap hari, anaknya yang tertua membantu Ibu Memey mengurus bayinya di rumah yang terletak di dekat pasar tempat setiap pagi ia berjualan.
Setelah kami puas berbincang-bincang dengan beliau, kami mengajak beliau untuk berfoto bersama. Tetapi akhirnya kami tidak berhasil mengambil foto Ibu Memey secara langsung, karena beliau bersikeras tidak mau difoto.


Refleksi Ida

Setelah mewawancarai Ibu Memey, saya menyadari bahwa masih banyak orang yang hidupnya lebih susah dari saya. Mereka harus berjuang keras untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga. Betapa sulitnya hidup dan sulitnya bekerja mencari uang. Ibu Memey berusaha untuk tetap menyekolahkan anak keduanya. Meskipun serba kekurangan, ia tetap berusaha untuk mengutamakan kepentingan anak-anaknya. Anak pertamanya rela tidak bersekolah, demi adik-adiknya. Ia membantu ibunya dengan menjaga adiknya yang masih kecil. Meski hidup dalam kekurangan mereka tetap bahagia. Kemiskinan dalam hidupnya tidak ia jadikan beban melainkan cobaan. Ia tetap berusaha yang terbaik. Dari hasil wawancara ini, saya jadi lebih menghargai orang-orang di sekitar saya. Mereka yang bekerja siang dan malam demi menafkahi keluarga. Terutama, saya menjadi lebih menghargai orangtua saya yang berusaha keras sehingga saya bisa bersekolah dan hidup berkecukupan. Saya sungguh bersyukur atas segala yang saya miliki yang telah Tuhan berikan pada saya. Banyak hal yang dapat saya pelajari melalui wawancara ini. Saya berharap melalui wawancara ini, saya dapat menjadi lebih menghargai sesama, menghormati orang lain, dan bersyukur atas segala yang telah saya miliki. Saya harus berjuang dari sekarang untuk masa depan saya karena orang tua saya telah bekerja keras agar saya dapat bersekolah dan meraih impian saya.

Refleksi Maureen

Pada zaman sekarang yang serba maju dan modern, kemiskinan pun semakin lama semakin menjangkit bersama kepahitan hidup. Di Indonesia, tingkat kemiskinan terus melonjak bersama dengan rendahnya tingkat pendidikan dan pendapatan perkapita masyarakat. Awalnya saya merasa biasa saja menanggapi masalah kemiskinan yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi kini pandangan saya tentang kehidupan menjadi lebih terbuka setelah saya mewawancarai Ibu Memey. Keacuhan dan anggapan saya bahwa orang-orang miskin identik dengan kata malas pun berubah menjadi rasa prihatin. Saya merasa iba dan tersentuh dengan perjuangan hidup Ibu Memey untuk menghidupi keluarganya.
Setelah wawancara ini, saya menyadari bahwa betapa saya selama ini kurang menghargai hidup saya. Saya juga merasa bahwa ternyata saya adalah termasuk orang yang beruntung, karena setiap hari saya tidak perlu bekerja sekeras Ibu Memey untuk memperoleh sesuap nasi, Saya juga tidak perlu berjualan cakwe dari pagi hingga larut malam untuk memenuhi kebutuhan saya, ataupun saya tidak perlu putus sekolah seperti anak sulung Ibu Memey karena orangtua saya tidak mampu.
Di sisi lain saya juga merasa salut atas ketegaran dan semangat Ibu Memey untuk mempertahankan hidupnya dan keluarganya. Saya melihat sosok seorang wanita yang kuat, sosok Ibu yang penuh tekad, sekaligus sosok Istri yang ulet bersatu dalam pribadi Bu Memey ini. Sungguh sulit dipercaya semangat dan ketabahan ini berasal dari sosok seorang wanita yang biasanya identik dengan kata lemah lembut. Saya berharap semua usaha dan semangat Bu Memey ini, akan membawa beliau ke kehidupan yang lebih baik di masa depannya. Semoga Tuhan memuluskan dan menyertai kehidupan beliau selalu.
Wawancara singkat dengan Bu Memey ini, membawa banyak perubahan dalam diri saya. Saya memperoleh banyak sekali pelajaran hidup dengan wawancara ini, salah satunya adalah betapa kita harus selalu tegar untuk menjalani hidup. Kita tidak boleh lembek ataupun mudah menyerah, apalagi hanya karena hal yang sepele dan tak berarti.
Melihat betapa sulitnya Bu Memey mencari uang, Selain itu, saya juga menjadi sadar betapa sulitnya mencari uang sekarang ini. Saya sangat menyesal jika mengingat betapa saya dulu sering bersikap konsumtif dengan menggunakan uang hasil keringat otangtua saya. Saya berniat untuk mengubah sifat konsumtif saya ini agar tidak menjadi kebiasaan buruk yang berkepanjangan.
Sekarang, saya menjadi termotivasi untuk meneladani semua keuletan dan sikap optimis Ibu memey dalam memandang segala kesulitan hidup. Saya berharap saya dapet meniru keuletannya ini dalam meraih impian dan masa depan saya.



Bergelut dengan Usaha dan Kerja Keras

Dibuat oleh :
Meiska Apriliana X1-17
Ursula Adeodata X1-27

Ini adalah kisah perjuangan hidup seorang bapak bernama Pak Maslan. Kami menemui Pak Maslan di depan komplek perumahan Pondok Timur Mas Bekasi. Beliau kehilangan satu kakinya dan harus mempergunakan tongkat. Sehari-harinya Pak Maslan bekerja sebagai seorang tukang tambal ban dan sudah 23 tahun menjalani profesi ini. Awalnya, kios tambal ban bapak tiga orang anak ini berada di depan sebuah klinik bersalin. Namun, karena adanya pembangunan ruko maka kios tersebut mau tidak mau ditutup. Tapi, karena tuntutan untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan ketiga anaknya, Pak Maslan akhirnya berusaha mencari lahan baru untuk membuka kios tambal ban.
Dari pekerjaan tersebut Pak Maslan memperoleh penghasilan yang tidak tetap. Sekitar Rp 50.000,- sampai Rp 60.000,- "Uang segitu mah dicukup-cukupin aja buat sehari-hari," katanya dengan logat batak yang masih kental. Menurutnya, untuk uang jajan anaknya setiap hari saja dijumlah sudah Rp 30.000,- ditambah uang belanja jadi sekitar Rp 60.000,-
Istrinya kini ikut membantu mencari nafkah dengan bekerja di salon milik adiknya. Anaknya yang paling besar ikut membantu usahanya di kios tambal ban dengan berdasar ilmu yang dia peroleh dari STM. Kedua anak perempuannya masih terbilang kecil untuk ikut membantu usahanya. Kios tersebut buka dari pukul 07.00 sampai 18.30 WIB, anak sulungnya membantu di pagi hari karena anaknya mengikuti pelajaran di sekolah pada sore hari.
Pak Maslan tidak menuntut banyak dari lokasi kios tambal ban yang baru walau hanya mengandalkan dari kendaraan bermotor yang melintas di depan kiosnya. Karena, lokasi kiosnya yang baru kurang strategis.
Hebatnya, Pak Maslan ternyata sangat percaya bahwa apa yang beliau dapatkan sampai hari inisemuanya sudah diatur oleh Tuhan. Bahkan, saat kami memuji perjuangannya Pak Maslanbersikap rendah hati dan berkata, "Yah bukan saya yang hebat. Tapi Tuhan! Dia yang ngatur inisemua tinggal gimana kita ngejalaninnya" sambil tersenyum.





Refleksi Oleh Fania

Saya kagum dengan perjuangan Pak Maslan yang selama 23 tahun membuka kios tambal ban untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarga. Dengan keadaan fisiknya yang terbatas, Pak Maslan tetap tekun bekerja demi keluarganya dan untuk menyekolahkan ketiga anaknya. Beliau begitu ramah dan terbuka saat kami wawancarai walaupun masih ada perasaan tidak enak untuk memberi pertanyaan yang lebih lanjut. Selain itu, Pak Maslan tidak merasa terbebani dengan pekerjaan dan tuntutan hidupnya. Beliau begitu sederhana. Dengan penghasilannya yang tidak seberapa, beliau berusaha memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Selain itu, Pak Maslan begitu dekat dengan Tuhan. Segala sesuatunya beliau serahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Pak Maslan tidak lupa dan tidak meninggalkan identitas dirinya sebagai orang Kristiani. Dari kisah tersebut, banyak sekali pelajaran hidup yang saya peroleh. Pertama, bagaimana sikap kita dalam menerima keadaan diri kita apa adanya dan cara kita dalam menutupi kekurangan kita dengan kelebihan yang kita miliki. Kedua, kegigihan dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup dengan bijaksana. Ketiga, menjalani hidup dengan senyuman sehingga segala sesuatunya tidak menjadi beban.




Refleksi Oleh Meiska

ban yang yang Saya sangat terkesan dengan semua usaha dan jawaban-jawaban dari Pak Maslan. Dari wawancara ini saya menjadi tersadar bahwa betapa berat perjuangan untuk bertahan hidup, sedangkan banyak sekali di zaman sekarang ini yang hidup hanya untuk berfoya-foya menghabiskan uang tanpa sama sekali memikirkan bagaimana beratnya memperoleh uang tersebut. Dari sini juga saya disadarkan dengan perkataan Pak Maslan tentang kasih Tuhan yang telah memberinya semua ini. Padahal jika kita lihat, Pak Maslan hanyalah seorang tukang tambal ban kehilangan satu kakinya dan dengan begitu beliau tidak mampu melakukan banyak hal yang orang-orang normal dapat lakukan. Beliau juga menyadarkan saya bahwa Tuhan memberi dan merencanakan segala sesuatunya untuk kita, tinggal bagaimana kita berusaha untuk mendapatkan yang terbaik, dan apa pun yang terjadi dalam hidup kita hendaknya dijalani dan disyukuri. Mulai dari sini pula, saya akan lebih menghargai semua yang Tuhan berikan, orang-orang di sektar saya terlebih orang-orang yang menderita dan kesulitan. Sebab menurut saya, sosok Pak Maslan sangatlah membuka mata saya tentang beratnya perjuangan hidup orang yang mengalami kesulitan ekonomi dan tidak seharusnya kita merendahkan orang-orang seperti Pak Maslan dengan segala kekurangannya.

*FMproduction@bekasi*

Wednesday, April 23, 2008

Memahami Kehidupan Seorang Pedagang Kecil

RELIGIOSITAS

Dibuat oleh:

* Elisabet I.W.(Eliz) X-1/04


* Giovanny (Vanny) X-1/09



“Pengennya enak, dagangan laku, rame yang beli”, tutur Ibu Mumun seorang pedagang makanan ringan disela-sela keramaian lalu lintas depan sekolah ST.Maria Fatima, Jatinegara Barat No.122. Selasa, 22 April 2008 yang lalu, kami mewawancarai seorang Ibu pedagang kaki lima bernama Ibu Mumun. Ibu Mumun adalah salah seorang pedagang kecil yang berjualan didepan gerbang sekolah tersebut. Walaupun memiliki pekerjaan, namun hidup sehari-hari Ibu Mumun sangat berat. Ibu dari 3 anak ini sudah berjualan makanan ringan di depan sekolah St.Maria Fatima sejak tahun 1995. Saat kami menanyakan mengapa beliau m

emilih pekerjaan itu, beliau menjawab sembari tertawa kecil, menurut pengakuan Ibu kelahiran Jakarta ini tidak ada banyak pilihan bagi dirinya untuk menjalani hidup di kota Jakarta.”Kalau tidak jualan disini tidak ada tempat lagi”, akunya lugu, beliau menuturkan bahwa menjual makanan ringan adalah salah satu usaha alternatif jika ingin berhasil berdagang didepan sekolah.


Walaupun pendapatannya tidak menentu tetapi Ibu yang murah senyum ini pantang menyerah. Bagi dirinya dan keluarganya yang tinggal di sekitar wilayah Jatinegara tersebut, beliau harus terus berjualan setiap harinya tanpa mengenal lelah.”Soalnya Bapak udah gak kerja, kalau saya gak jualan nanti gak bisa makan”,sahut beliau diselingi senyum lirih. Pendapatan Ibu Mumun yang rata-rata berkisar a

ntara 100-200 ribu rupiah setiap bulannya mau tidak mau harus dijadikan sebagai tonggak utama perekonomian keluarga beliau.”Cukup atau tidak ya dicukup-cukupin”, katanya sambil tersenyum.

Sebenarnya Ibu Mumun memiliki keinginan untuk berganti usaha, namun karena tidak memiliki modal niat tersebut terpaksa diurungkan.”Seandainya kalau suatu hari nanti punya cukup modal, Ibu mau berganti usaha apa?”, Tanya kami lebih lanjut,”Yah, apa saja, nanti lihat saja dulu”, jawabnya yang lagi-lagi disertai tawa.

Kehidupan sehari-hari Ibu Mumun sebagai penjual makanan ringan tentu diwarnai dengan banyak peristiwa suka dan duka, salah satunya adalah polisi yang menertibkan pedagang kaki lima atau yang lazim kita kenal dengan sebutan ‘Kantib’. Setiap harinya sekitar pukul 11 siang hari ,para petugas Kantib ini berpatroli didepan sekolah ST.Maria Fatima, jika para petugas ini sudah mulai terdengar kehadirannya maka para pedagang kaki lima termasuk Ibu Mumun segera mendorong semua dagangan mereka ke dalam halaman parkir sekolah ST.Maria Fatima, syukurlah pihak sekolah memberikan ijin dan perlindungan bagi para pedagang malang tersebut. Bahkan terkadang para satpam sekolah terlihat berjaga di gerbang sejolah untuk membantu para pedagang memasukan barang-barang begitu pula para orang tua murid dan tukang parker sekolah, sungguh sebuah pemandangan yang mengharukan.

Begitulah sekilas kehidupan Ibu Mumun, seorang wanita yang berumur lebih dari setengah baya namun memiliki semangat yang membara dan mental baja. Wanita yang walaupun mengalami penderitaan karena keterbatasan ekonomi namun tetap menghiasi kesehariannya dengan sebuah senyuman yang tulus dari hati.





REFLEKSI

Oleh: Elisabet I.W.(Eliz)

X-1/04.

Setelah menemui seorang yang begitu gigih menghadapi kehidupannya dalam kemiskinan materi, saya menjadi lebih menghargai kehidupan saya sekarang ini yang walaupun tidak bisa dikatakan mewah namun tidak kekurangan, saya menyadari akan sulitnya mendapatkan benda bernama uang yang kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya menjadi lebih memahami bahwa hidup ini tidak mudah dan butuh kerja keras, tanpa usaha dan jerih payah kita tidak mampu memenuhi kebutuhan kita yang semakin lama semakin bertambah, bahkan hanya untuk makan sehari-hari.

Kehidupan yang kita alami sekarang mungkin tidak selamanya tetap seperti sedia kala , kehidupan akan berubah seiring berjalannya waktu, semuanya berkembang dan terkadang berubah, bisa menjadi lebih baik bisa pula sebaliknya, kehidupan merupakan misteri yang tiada dapat diselami oleh akal budi manusia. Karenanya saya menjadi sadar bahwa hidup sekarang haruslah digunakan sebaik-baiknya, saya menyadari bahwa mungkin hidup saya nanti akan berubah, entah menjadi lebih baik atau justru semakin menjadi buruk, tidak ada yang tau pasti, yang jelas berubah berarti tidak sama seperti yang sekarang ada, karena itu hidup kita yang sekarang ini harus lebih kita syukuri dan kita pergunakan sebaik-baiknya.

Terkadang memang kehidupan tidak berjalan sesuai yang kita inginkan, seperti Ibu Mumun contohnya. Tidak ada seorangpun yang ingin berada dalam jurang kemiskinan dimana segalanya terasa begitu berat dan sulit diraih, namun dari kacamata Ibu Mumun yang memandang segala kejadian dalam hidupnya dengan penuh syukur, hal itu bukanlah masalah yang perlu dipusingkan terus, beliau seolah menyadarkan saya bahwa kehidupan itu untuk dijalani dengan penuh usaha dan kerja keras bukan untuk diratapi dan ditangisi.

Apa yang kita miliki saat ini adalah hasil dari kerja keras dan keringat orang tua kita karena itu kita harus dapat menghemat dan menghargai semua barang-barang yang disediakan bagi kita sekarang, termasuk menghemat uang.Saya juga menjadi lebih mengerti bahwa semua kejadian yang kita alami harus selalu disyukuri, saya seperti diajari untuk lebih mensyukuri semua yang diberikan Tuhan bagi saya, baik dalam suka maupun duka karena masih banyak orang yang lebih menderita daripada saya.Satu hal lagi yang saya dapatkan adalah senyuman merupakan obat yang manjur untuk menghapus duka dan penderitaan yang kita alami, hendaknya kehidupan ini kita jalani dengan penuh rasa syukur dan dihiasi dengan senyuman.